sahrudi
by on January 24, 2017
409 views
Karyawan adalah aset perusahaan. Sumber daya yang seharusnya dijaga dan dibina dengan baik. Bukan sekedar dipekerjakan, dipereras keringat dan pikirannya untuk menggemukkan perusahaan. Seorang karyawan harus diberikan nutrisi berupa gaji yang sepadan dan juga ilmu pengetahuan yang relevan dengan pekerjaannya.
Ketika hak-hak para karyawan dikebiri maka mereka tidak akan menunggu waktu lama untuk berhenti. Berikut ini ada lima penyebab karyawan berhenti bekerja.
Ketidaksesuaian kontrak kerja dengan SOP
Kontrak kerja merupakan dasar awal yang menjadi pegangan karyawan dalam aktivitas pekerjaannya. Kemudian kontrak kerja tersebut dijabarkan dalam Standar Operasioanl Pekerjaan atau disebut SOP. Melalui SOP ini karyawan paham batasan tanggung jawab secara spesifik. Namun dalam kondisi tertentu ada beberapa SOP yang menjadi gemuk karena keterbatasan jumlah karyawan. Sehingga beberapa karyawan diberikan beban tanggung jawab secara rangkap.
Pada kondisi seperti untuk waktu yang tidak lama tentu tidak menjadi masalah. Namun ketika tidak upaya manajemen untuk mengisi kekosongan pekerjaan tersebut maka akan menjadi sebuah masalah. Meskipun banyak pengangguran diluarsana. Namun nyatanya untuk menemukan pekerja yang benar-benar sesuai kebutuhan ternyata juga sangat susah.
Oleh karena itu, untuk mempertahankan karyawan yang ada dan menambahkan karyawan baru seharusnya menjadi hal wajib. Kekosongan posisi seharusnya tidak dibiarkan berlarut-larut karena akan berdampak pada kesalahan penafsiran pada karyawan yang sudah ada. Merasa dirinya dijadikan sapi perah. Ujungnya akan berakhir pada keputusan untuk mengundurkan diri.
Ketidaksesuaian gaji dengan Beban kerja
Seorang memilih bekerja pasti ujung-ujungnya adalah untuk mendapatkan penghasilan. Namun mendapatkan penghasilan tentu saja tidak cukup. Tetapi ingin bekerja dengan nyaman sesuai dengan gaji yang diberikan. Gaji dan beban kerja harusnya berbanding lurus. Semakin berat tanggung jawab yang diberikan maka seharusnya gaji pun akan semakin tinggi. Namun ketika hal ini tidak sesuai dengan praktek dilapangan. Maka karyawan akan berpikir untuk berhenti dan mencari tempat lain.
Akan sangat disayangkan ketika karyawan tersebut memiliki etos kerja yang baik. Namun tidak diberikan hak sesuai dengan kewajiban yang telah dijalankan.
Iklim kerja yang tidak kondusif
Pada dasarnya semua manusia ingin merasa nyaman berada dimanapun. Termasuk berada pada lingkungan kerja. Ketika lingkungan kerja sudah tidak lagi terasa nyaman. Maka gaji besar tidak akan menjadi pertimbangan. Kenyamanan iklim kerja tergantung pada manajemen yang baik. Bagaimana menciptakan iklim kerja kondusif bagi semua karyawan. Pemberian hak dan kewajiban yang seimbang. Pemeberian kesempatan dan peluang untuk meningkatkan karir yang adil.
Iklim kerja juga bisa dipengaruhi oleh hubungan sesama karyawan. Ketika muncul kecemburuan sosial sesama karyawan maka bisa dipastikan bahwa iklim kerja sudah tidak lagi kondusif. Merasa ada anak emas dalam lingkungan kerja. Mendapatkan perhatian dan kesempatan yang lebih baik. Bukan berarti harus memiliki kesempatan yang sama tetapi adil. Karena adil bukan berarti harus sama, tapi menyesuaikan dengan kewajiban dan tanggung jawab setiap karyawan. Disinilah peran manejemen untuk menjelaskan dengan baik kepada semua karyawan agar tidak terjadi kecemburuan sosial.
Arogansi Pimpinan
Pimpinan adalah kunci dari jalan atau tidaknya manajemen perusahaan. Meskipun sebuah perusahaan memiliki karyawan dengan kualifikasi terbaik. Namun ketika pimpinan tidak mampu membuat keputusan yang tepat maka karyawan terbaik pun tidak akan mampu memberikan sumbangsih yang berarti.
Kesalahan dalam manajemen perusahaan terjadi karena arogansi pimpinan. Tidak siap menerima masukan saran apalagi kritik. Padahal pimpinan sendiri sadar bahwa karyawan yang dipimpinnya adalah orang terbaik yang memiliki ide brillian untuk mengembangkan perusahaan.
Ingin lepas dari ikatan system
Selain faktor eksternal seperti yang ada di atas. Ternyata ada faktor internal yang sangat berpengaruh terhadap keputusan seorang karyawan berhenti bekerja. Memutuskan untuk berhenti karena tidak ingin lagi terikat pada sebuah sistem. Ingin hidup bebas dan menjalankan usaha sendiri. Menciptakan sebuah sistem sendiri dimana dirinya tidak terikat dalam sistem tersebut.
Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk diakui. Menjadi pemimpin, dan memiliki kekuatan dalam sebuah bangunan sistem. Maka tidak heran ketika banyak orang yang memilih untuk menjadi pengusaha. Meskipun secara teori menjadi pengusaha adalah pilihan untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya dengan ketidakpastian yang tinggi.
Sederhananya adalah bekerja artinya memiliki penghasilan pasti dalam hitungan waktu tertentu, misalnya hari minggi atau bulan dan memiliki jadwal kerja tetap. Normalnya adalah 8 jam sehari. Kemudian memutuskan untuk berhenti dan menjadi pengusaha atau memulai usaha sendiri. Dengan jam kerja di atas normal tanpa kepastian penghasilan dalam hitungan waktu tertentu.
Namun itu adalah pilihan yang tentunya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun.
Ketika persolan berhentinya seorang karyawan hanya karena faktor eksternal. Maka tentunya hal ini disebabkan oleh tata kelola manajemen perusahaan yang salah. Namun ketika itu faktor internal maka tentunya perusahaan tidak bisa lagi memberikan intervensi atau hegemoni apapun. Hanya bisa merelakan dan segera mencari penggantinya agar tidak terjadi kekosongan pekerjaan yang menyebabkan karyawan lain menjadi terbebani.
Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita yang ingin membangun usaha sendiri. Menjadi pemimpin dalam perusahaan. Memimpin team kerja dan lain sebagainya. Menjadikan orang lain sebagai manusia seutuhnya dengan penghargaan yang tepat.
Post in: Bisnis
Be the first person to like this.