Benarkah Golongan Darah O Tidak Baik Mengonsumsi Terong?

Ada banyak nasihat makan yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu kuat secara ilmiah. Salah satunya adalah anggapan bahwa orang bergolongan darah O tidak baik mengonsumsi terong. Kalimat seperti ini sering muncul dalam pembahasan diet golongan darah. Biasanya, makanan dibagi menjadi beberapa kelompok: ada yang dianggap baik, netral, dan ada yang sebaiknya dihindari sesuai golongan darah.

Sekilas terdengar masuk akal. Setiap orang memang punya kondisi tubuh yang berbeda. Ada yang cocok makan makanan tertentu, ada yang perutnya langsung tidak nyaman. Ada yang alergi, ada yang sensitif, ada juga yang tidak mengalami masalah apa pun. Namun, ketika makanan tertentu dikaitkan langsung dengan golongan darah, kita perlu bertanya: apakah benar ada bukti ilmiahnya?

Untuk kasus terong dan golongan darah O, jawabannya cukup jelas: belum ada bukti kuat bahwa orang bergolongan darah O harus menghindari terong hanya karena golongan darahnya.

Diet berdasarkan golongan darah populer karena gagasannya terasa personal. Orang dengan golongan darah A, B, AB, dan O dianggap memiliki kebutuhan makanan yang berbeda. Pada golongan darah O, biasanya dianjurkan lebih banyak protein hewani dan membatasi beberapa jenis makanan tertentu. Di beberapa daftar diet golongan darah, terong termasuk makanan yang disebut perlu dihindari oleh golongan darah O.

Masalahnya, klaim seperti ini tidak cukup didukung penelitian klinis yang kuat. Sebuah tinjauan sistematis dalam The American Journal of Clinical Nutrition menyatakan bahwa tidak ada bukti yang dapat memvalidasi manfaat kesehatan dari diet golongan darah. Tinjauan itu juga menekankan perlunya penelitian yang benar-benar membandingkan hasil kesehatan orang dalam kelompok golongan darah tertentu bila mengikuti diet tersebut.

Harvard Health juga membahas hal serupa. Mereka menjelaskan bahwa studi tahun 2013 tidak menemukan penelitian yang menunjukkan manfaat diet golongan darah, dan studi tahun 2014 menemukan bahwa pola makan tertentu bisa memperbaiki beberapa faktor kesehatan, tetapi perbaikannya tidak bergantung pada golongan darah orang tersebut.

Artinya, bila seseorang merasa lebih sehat setelah mengikuti diet golongan darah, belum tentu karena makanannya cocok dengan golongan darah. Bisa saja karena ia jadi lebih banyak makan sayur, mengurangi makanan olahan, mengurangi gula, atau lebih memperhatikan pola makan secara umum. Perubahan seperti itu memang dapat membantu kesehatan, tetapi bukan berarti golongan darah menjadi penentu utama makanan yang cocok.

Cleveland Clinic juga menyampaikan pandangan yang sejalan. Menurut mereka, penelitian menunjukkan bahwa golongan darah tidak menentukan apakah seseorang akan mendapat manfaat dari pola makan tertentu. Jika pola makan itu sehat, orang bisa mendapat manfaat terlepas dari golongan darahnya.

Lalu bagaimana dengan terong sendiri? Apakah terong termasuk makanan yang berbahaya?

Terong adalah bahan pangan yang umum dikonsumsi di banyak negara. Dalam 1 cup terong mentah potong dadu sekitar 82 gram, USDA SNAP-Ed mencatat kandungan kalorinya sekitar 20 kalori, karbohidrat 5 gram, serat 3 gram, dan lemak 0 gram.  Dari sisi gizi, terong termasuk makanan rendah kalori dan mengandung serat. Cara pengolahannya yang sering membuat terong menjadi “berat”, misalnya ketika digoreng terlalu banyak minyak atau dimasak dengan santan kental.

Terong juga termasuk keluarga tanaman Solanaceae atau nightshade, satu kelompok dengan tomat, kentang, paprika, dan cabai. Kelompok tanaman ini memang mengandung senyawa alami seperti alkaloid atau glycoalkaloid. Karena itu, sebagian orang mengaitkan nightshade dengan peradangan, nyeri sendi, atau gangguan pencernaan. Namun, untuk kebanyakan orang, bukti bahwa nightshade harus dihindari secara umum masih lemah.

Sebuah tinjauan tentang nightshade dan gangguan pencernaan menyebutkan bahwa literatur yang membahas efek buruk konsumsi nightshade masih terbatas. Tinjauan itu lebih banyak menyoroti kemungkinan hubungan pada kondisi tertentu seperti IBS, IBD, alergi, dan sensitivitas, bukan menyatakan bahwa semua orang harus menghindarinya.

Jadi, masalah terong lebih masuk akal dibahas dari sisi kondisi tubuh masing-masing, bukan dari golongan darah. Ada orang yang makan terong baik-baik saja. Ada juga yang merasa perut kembung, gatal, mual, atau tidak nyaman setelah makan terong. Bila keluhan seperti ini berulang, penyebabnya bisa berupa intoleransi, sensitivitas, alergi, atau faktor pengolahan makanan.

Alergi terong memang bisa terjadi, meskipun tidak termasuk alergi makanan yang paling umum. Sebuah review tentang alergi Solanum melongena atau terong menyebut reaksi alergi terong dapat menimbulkan gejala dari saluran cerna hingga saluran napas.  Penelitian lain juga melaporkan gejala alergi terong seperti ruam kulit, angioedema, dan mengi, dengan reaksi berat yang tergolong jarang.

Jika seseorang mengalami gatal di mulut, bibir bengkak, ruam, sesak, muntah, atau diare setelah makan terong, itu perlu diperhatikan. Tetapi penyebabnya bukan karena ia bergolongan darah O. Orang dengan golongan darah A, B, AB, ataupun O sama-sama bisa mengalami alergi atau sensitivitas makanan.

Ada juga orang yang merasa terong membuat badan tidak enak karena cara memasaknya. Ini sering terjadi. Terong mudah menyerap minyak. Kalau digoreng sampai berminyak, lalu dimakan bersama sambal berminyak, santan, atau lauk tinggi lemak, keluhan seperti begah dan mual bisa muncul. Dalam kasus seperti ini, yang bermasalah belum tentu terongnya, tetapi cara pengolahannya.

Terong bakar, terong kukus, terong panggang, atau tumis terong dengan sedikit minyak biasanya lebih ringan dibanding terong goreng yang menyerap banyak minyak. Bagi orang yang sedang menjaga berat badan, kolesterol, atau asam lambung, cara masak seperti ini lebih masuk akal dibanding langsung menyalahkan terong sebagai makanan yang buruk.

Sebagian orang juga khawatir karena terong terasa pahit. Rasa pahit pada terong bisa dipengaruhi varietas, tingkat kematangan, ukuran buah, penyimpanan, dan kandungan senyawa alaminya. Terong yang terlalu tua atau terlalu lama disimpan bisa terasa lebih pahit. Namun, rasa pahit tidak otomatis berarti beracun dalam porsi konsumsi normal. Yang penting, pilih terong segar, tidak busuk, tidak berlendir, dan masak dengan cara yang baik.

Bagi orang bergolongan darah O yang selama ini makan terong tanpa keluhan, tidak ada alasan ilmiah kuat untuk berhenti hanya karena membaca daftar pantangan diet golongan darah. Kalau tubuh baik-baik saja, pencernaan normal, kulit tidak gatal, dan tidak ada gejala aneh setelah makan terong, terong tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehari-hari.

Namun, jika setiap makan terong muncul keluhan yang konsisten, sebaiknya jangan diabaikan. Coba hentikan dulu beberapa waktu, lalu perhatikan apakah keluhan membaik. Jika perlu, catat makanan yang dikonsumsi, cara masaknya, dan gejala yang muncul. Bila gejalanya berat atau berulang, lebih aman berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Hal yang perlu dihindari adalah membuat aturan makan terlalu sempit hanya berdasarkan golongan darah. Pola makan yang sehat sebaiknya dilihat dari kebutuhan tubuh secara nyata: usia, berat badan, aktivitas, penyakit yang dimiliki, alergi, kadar gula darah, tekanan darah, kolesterol, fungsi ginjal, dan kebiasaan makan sehari-hari. Golongan darah memang penting untuk transfusi darah, tetapi belum terbukti kuat sebagai dasar untuk menentukan bahwa seseorang boleh atau tidak boleh makan terong.

Jadi, benarkah golongan darah O tidak baik mengonsumsi terong? Berdasarkan bukti yang ada, klaim itu belum terbukti. Terong tidak perlu dihindari hanya karena seseorang bergolongan darah O. Yang lebih penting adalah melihat respons tubuh sendiri, cara pengolahan, porsi makan, dan kondisi kesehatan masing-masing.

Kalau terong dimasak dengan cara yang lebih sehat dan tidak menimbulkan keluhan, orang bergolongan darah O tetap boleh mengonsumsinya. Tetapi kalau setelah makan terong tubuh terasa tidak nyaman, muncul gatal, mual, perut sakit, atau sesak, hentikan dulu dan cari penyebabnya. Dalam urusan makanan, tubuh sering memberi tanda yang lebih jujur daripada daftar pantangan yang belum tentu punya dasar ilmiah kuat.


Baca Juga :