Mencampur bahan bakar berbeda oktan sebenarnya sering terjadi tanpa disadari. Misalnya, tangki motor masih berisi sedikit bensin RON 90, lalu diisi lagi dengan RON 92. Atau mobil yang biasanya memakai RON 92 sesekali diisi RON 95 karena ingin mencoba bahan bakar yang lebih tinggi. Pertanyaannya, apakah itu aman untuk mesin?
Jawaban sederhananya: boleh, selama yang dicampur masih sama-sama bensin dan nilai oktan akhirnya tidak lebih rendah dari kebutuhan mesin. Yang tidak boleh adalah mencampur jenis bahan bakar yang memang berbeda fungsi, misalnya bensin dengan solar. Itu masalah lain dan risikonya jauh lebih besar.
Nilai oktan menunjukkan kemampuan bensin menahan pembakaran terlalu dini di dalam mesin. U.S. Energy Information Administration menjelaskan bahwa octane rating adalah ukuran stabilitas bahan bakar. Semakin tinggi angka oktan, semakin stabil bahan bakar tersebut terhadap tekanan dan panas sebelum terbakar sendiri.
Pada mesin bensin, pembakaran seharusnya terjadi ketika busi memercikkan api. Kalau bahan bakar terbakar lebih dulu karena tekanan dan panas di ruang bakar, mesin bisa mengalami knocking atau ngelitik. Suaranya seperti ketukan halus, biasanya muncul saat kendaraan menanjak, membawa beban, atau digas mendadak. EIA juga menjelaskan bahwa oktan yang lebih tinggi membantu mengurangi risiko pre-ignition atau pembakaran terlalu dini yang menjadi penyebab engine knock.
Kalau dua bensin berbeda oktan dicampur, angka oktannya akan berada di antara keduanya. Secara praktis, campurannya dapat diperkirakan dengan rata-rata berdasarkan volume. Misalnya, 10 liter bensin RON 90 dicampur dengan 10 liter bensin RON 92. Hasilnya kira-kira menjadi RON 91. Cars.com memberi contoh serupa: setengah tangki 87 oktan dicampur setengah tangki 93 oktan akan menghasilkan sekitar 90 oktan.
Contoh lain, jika 5 liter RON 90 dicampur dengan 15 liter RON 92, maka angka campurannya kira-kira 91,5. Karena jumlah RON 92 lebih banyak, hasil akhirnya lebih dekat ke RON 92. Perhitungan seperti ini cukup membantu untuk gambaran sederhana, meskipun dalam industri bahan bakar, pencampuran bensin bisa lebih kompleks karena ada komponen aditif, etanol, dan formula masing-masing produk.
Masalahnya bukan pada kegiatan mencampurnya, tetapi pada apakah angka oktan akhir masih cocok untuk mesin. Jika kendaraan direkomendasikan memakai minimal RON 90, mencampur RON 90 dengan RON 92 umumnya tidak menjadi masalah. Angka akhirnya tetap berada di atas kebutuhan minimal mesin. Bahkan kalau sesekali naik ke RON lebih tinggi, mesin tidak rusak hanya karena itu.
Namun, kalau kendaraan membutuhkan minimal RON 92, lalu tangki terlalu banyak diisi RON 90, angka oktan akhirnya bisa turun di bawah kebutuhan mesin. Di sinilah risiko knocking bisa muncul. Pada mesin modern, sensor knocking dan komputer mesin biasanya dapat menyesuaikan waktu pengapian agar mesin tetap aman. Tetapi penyesuaian itu tidak selalu membuat mesin bekerja optimal. Tenaga bisa terasa turun, tarikan kurang halus, atau konsumsi bahan bakar menjadi kurang efisien.
Hal ini terutama penting untuk mesin berkompresi tinggi, mesin turbo, atau mesin yang dari pabriknya memang meminta bensin oktan lebih tinggi. Department of Energy mencatat bahwa penggunaan mesin turbo dan kompresi lebih tinggi membuat banyak kendaraan modern membutuhkan atau merekomendasikan premium gasoline, karena mesin seperti ini memerlukan tingkat oktan lebih tinggi.
Di sisi lain, memakai oktan lebih tinggi pada mesin yang tidak membutuhkannya juga belum tentu memberi manfaat besar. Banyak orang menganggap bensin oktan tinggi pasti membuat mesin lebih bertenaga atau lebih irit. Padahal tidak selalu begitu. AAA pernah menguji penggunaan bensin premium pada kendaraan yang hanya membutuhkan bensin regular. Hasilnya, tidak ada manfaat berarti pada performa, konsumsi bahan bakar, maupun emisi untuk kendaraan yang memang dirancang memakai regular fuel.
Jadi, kalau motor atau mobil harian cukup memakai RON 90, lalu sesekali diisi RON 92, itu aman. Tetapi jangan berharap mesin langsung berubah menjadi jauh lebih irit atau jauh lebih bertenaga. Efeknya bisa saja terasa lebih halus pada sebagian kendaraan, tetapi itu tidak selalu terjadi pada semua mesin.
Yang sering membingungkan adalah istilah “mencampur”. Kalau maksudnya tangki masih ada sisa bensin lama, lalu diisi bensin oktan berbeda, itu normal. Bensin akan bercampur di dalam tangki saat kendaraan bergerak. Tidak perlu menguras tangki hanya karena sebelumnya memakai RON 90 lalu ingin pindah ke RON 92.
Misalnya, seseorang ingin beralih dari RON 90 ke RON 92. Tangki tidak harus benar-benar kosong. Cukup isi dengan RON 92. Pada pengisian pertama, angka oktan di dalam tangki mungkin masih campuran. Setelah beberapa kali isi ulang, komposisinya akan semakin mendekati RON 92. Cara ini lebih aman daripada sengaja menunggu tangki benar-benar kosong sampai kendaraan mogok atau pompa bahan bakar bekerja terlalu berat.
Mencampur bensin berbeda oktan juga tidak otomatis merusak injektor, fuel pump, atau busi. Selama bahan bakarnya bersih, sesuai standar, dan masih sama-sama bensin untuk mesin bensin, sistem bahan bakar tetap dapat mengalirkannya. Risiko baru muncul jika bahan bakar terkontaminasi air, tercampur solar, menggunakan aditif sembarangan, atau angka oktan akhirnya terlalu rendah untuk mesin.
Untuk kendaraan lama, efeknya bisa berbeda-beda. Ada mesin lama yang lebih toleran terhadap bensin oktan rendah. Ada juga mesin yang mudah ngelitik karena ruang bakarnya sudah banyak kerak, sistem pengapian tidak sehat, atau setelan mesin tidak ideal. Dalam kondisi seperti ini, naik oktan kadang membantu mengurangi ngelitik, tetapi tidak selalu menyelesaikan akar masalah. Jika suara knocking sering muncul, mesin tetap perlu diperiksa.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan menjadikan campuran oktan sebagai cara utama untuk “meracik” bahan bakar sendiri. Secara hitungan memang bisa diperkirakan, tetapi kualitas bahan bakar bukan cuma soal angka oktan. Ada kandungan aditif pembersih, kestabilan bahan bakar, kadar etanol pada produk tertentu, dan standar formulasi dari masing-masing produsen. Untuk pemakaian harian, lebih sederhana dan lebih aman mengikuti rekomendasi pabrikan.
Kalau kendaraan direkomendasikan RON 92, sebaiknya gunakan RON 92 atau lebih tinggi secara konsisten. Kalau kendaraan cukup RON 90, memakai RON 90 sudah sesuai. Naik ke RON 92 boleh saja, terutama jika mesin terasa lebih halus atau ingin menjaga pembakaran lebih stabil, tetapi manfaatnya tidak selalu sebanding dengan selisih harga.
Ada beberapa situasi ketika mencampur oktan masih masuk akal. Misalnya, bahan bakar yang biasa dipakai sedang kosong, sementara kendaraan harus tetap jalan. Jika kendaraan membutuhkan RON 92 dan yang tersedia hanya RON 90, lebih baik isi seperlunya saja, jangan penuh, lalu tambahkan RON lebih tinggi begitu tersedia. Selama perjalanan, hindari mengemudi agresif, jangan memaksa mesin bekerja berat, dan perhatikan apakah muncul suara ngelitik.
Sebaliknya, jika biasanya memakai RON 90 lalu hanya tersedia RON 92, tidak ada masalah. Mengisi RON lebih tinggi pada mesin yang membutuhkan oktan lebih rendah umumnya aman. Hanya saja, manfaatnya belum tentu terasa besar. Dalam kondisi ini, yang berubah paling jelas biasanya bukan performa mesin, melainkan biaya pengisian.
Mencampur bahan bakar berbeda oktan boleh saja selama masih sama-sama bensin dan angka oktan akhirnya tetap sesuai kebutuhan mesin. Yang perlu dihindari adalah menurunkan oktan terlalu jauh dari rekomendasi pabrikan, memaksa mesin saat mulai ngelitik, atau mencampur bensin dengan bahan bakar lain yang bukan untuk mesin bensin. Mesin tidak membutuhkan bahan bakar yang “paling mahal”, tetapi bahan bakar yang paling sesuai dengan desainnya.