Saat mengisi bensin di SPBU, kita sering melihat angka seperti RON 90, RON 92, RON 95, atau RON 98. Angka itu biasanya disebut nilai oktan. Banyak orang menganggap semakin tinggi oktan, maka bensin pasti semakin “kuat”, semakin irit, atau selalu lebih bagus untuk semua kendaraan. Padahal, penjelasannya tidak sesederhana itu.
Nilai oktan sebenarnya berkaitan dengan kemampuan bensin menahan pembakaran terlalu dini di dalam mesin. U.S. Energy Information Administration menjelaskan bahwa octane rating adalah ukuran stabilitas bahan bakar. Semakin tinggi angka oktan, semakin besar kemampuan bahan bakar untuk menahan auto-ignition, yaitu terbakar sendiri karena tekanan dan panas sebelum waktunya.
Pada mesin bensin, campuran udara dan bahan bakar masuk ke ruang bakar, lalu dikompresi oleh piston. Setelah itu, busi memercikkan api agar pembakaran terjadi pada waktu yang tepat. Masalah muncul kalau bensin terbakar terlalu cepat sebelum percikan busi bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini sering disebut knocking atau ngelitik.
Knocking bisa terdengar seperti suara ketukan halus dari mesin, terutama saat kendaraan menanjak, membawa beban, atau digas mendadak. Pada awalnya mungkin terdengar sepele. Namun, kalau terus terjadi, knocking bisa membuat pembakaran tidak rapi, tenaga mesin menurun, suhu ruang bakar meningkat, dan dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan komponen mesin.
Di sinilah nilai oktan berperan. Bensin dengan nilai oktan lebih tinggi lebih tahan terhadap tekanan dan panas sebelum terbakar. Jadi, bensin oktan tinggi bukan berarti lebih mudah meledak. Justru sebaliknya, bensin oktan tinggi lebih stabil saat dikompresi di dalam ruang bakar.
Angka RON sendiri merupakan singkatan dari Research Octane Number. Ini adalah salah satu metode pengukuran nilai oktan. Di Indonesia, istilah RON lebih sering digunakan pada bahan bakar bensin. Misalnya Pertalite dikenal sebagai bensin dengan angka oktan 90, sementara Pertamax dikenal sebagai bensin 92. Pertamina Patra Niaga juga menyebut Pertamax Turbo sebagai produk bensin dengan RON 98.
Hal yang perlu dipahami, RON 92 bukan berarti bensin itu mengandung “92 persen oktan”. Angka tersebut bukan persentase kandungan bahan kimia di dalam bensin. RON adalah angka uji untuk menunjukkan seberapa tahan bahan bakar terhadap knocking dibandingkan bahan bakar standar di mesin uji.
Pada beberapa negara, terutama Amerika Serikat, angka oktan di SPBU sering menggunakan metode berbeda, yaitu rata-rata dari RON dan MON. MON adalah Motor Octane Number. EIA menjelaskan bahwa angka oktan yang dipakai di sana merupakan rata-rata dari dua metode pengujian, yaitu RON dan motor octane rating. Karena metode pengukurannya berbeda, angka oktan di satu negara tidak selalu bisa dibandingkan langsung dengan angka di negara lain tanpa melihat sistem yang digunakan.
Lalu, apakah oktan tinggi selalu lebih baik?
Jawabannya: belum tentu. Nilai oktan yang tepat tergantung pada desain mesin. Mesin dengan rasio kompresi lebih tinggi, mesin turbo, atau mesin performa tinggi biasanya membutuhkan bensin dengan oktan lebih tinggi. EIA mencatat bahwa penggunaan bensin oktan lebih tinggi dapat membantu mengimbangi risiko knocking pada mesin dengan kompresi lebih tinggi. Itulah sebabnya kendaraan performa tinggi atau kendaraan tertentu dari pabrikan sering disarankan memakai bensin premium.
Sebaliknya, kendaraan yang memang dirancang untuk bensin oktan lebih rendah belum tentu mendapat manfaat besar dari bensin oktan tinggi. AAA pernah melakukan pengujian dan menemukan bahwa penggunaan bensin premium pada kendaraan yang hanya membutuhkan bensin regular tidak memberikan manfaat berarti pada performa, konsumsi bahan bakar, maupun emisi.
Jadi, bensin oktan tinggi bukan semacam “vitamin” yang otomatis membuat semua mesin lebih sehat. Kalau mesin tidak membutuhkan oktan tinggi, sistem pembakaran kendaraan tidak selalu bisa memanfaatkan keunggulan tersebut. Yang terasa justru biaya pengisian lebih mahal.
Namun, bukan berarti nilai oktan bisa diabaikan. Menggunakan bensin dengan oktan terlalu rendah pada mesin yang membutuhkan oktan lebih tinggi dapat menimbulkan knocking. Pada kendaraan modern, sensor mesin mungkin bisa menyesuaikan waktu pengapian untuk mengurangi risiko knocking. Tetapi penyesuaian itu sering membuat performa turun. Mesin bisa terasa kurang bertenaga, konsumsi bahan bakar memburuk, atau akselerasi tidak sehalus biasanya.
Contohnya begini. Sebuah mesin dengan kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar yang lebih tahan terhadap tekanan. Jika diisi bensin oktan rendah, campuran bahan bakar dan udara bisa terbakar sebelum waktunya. Pembakaran yang seharusnya terjadi setelah percikan busi menjadi tidak terkendali. Akibatnya, piston seperti menerima hantaman dari arah yang tidak ideal. Dari sinilah suara ngelitik sering muncul.
Sebaliknya, mesin dengan kompresi rendah biasanya tidak membutuhkan bensin oktan terlalu tinggi. Bukan berarti mesin akan rusak jika sesekali memakai oktan lebih tinggi. Namun, manfaatnya belum tentu terasa. Pada banyak kendaraan harian, pilihan terbaik tetap mengikuti rekomendasi pabrikan yang tertulis di buku manual, tutup tangki, atau informasi teknis kendaraan.
Ada juga salah paham lain: oktan tinggi dianggap pasti membuat bensin lebih irit. Padahal, irit atau borosnya kendaraan dipengaruhi banyak hal, seperti kondisi mesin, gaya berkendara, tekanan ban, beban kendaraan, kondisi jalan, kualitas oli, filter udara, dan kemacetan. Oktan hanya salah satu faktor, dan fungsinya lebih dekat pada kestabilan pembakaran, bukan jaminan konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.
Bensin oktan tinggi bisa terasa lebih enak dipakai jika mesin memang dirancang untuk itu. Misalnya pada kendaraan turbo atau mesin kompresi tinggi yang membutuhkan bahan bakar lebih stabil. Pada kondisi seperti itu, oktan tinggi membantu mesin bekerja sesuai rancangan. Tetapi pada mesin biasa yang tidak membutuhkan oktan tinggi, efeknya sering tidak terlalu terasa.
Lalu bagaimana cara memilih bahan bakar yang tepat?
Cara paling aman adalah melihat rekomendasi pabrikan. Jangan hanya mengikuti anggapan “semakin tinggi semakin bagus” atau “yang penting murah”. Mesin punya kebutuhan masing-masing. Motor atau mobil lama, kendaraan harian, mesin turbo, mesin injeksi modern, dan kendaraan performa tinggi bisa punya kebutuhan bahan bakar yang berbeda.
Jika kendaraan sering ngelitik saat menanjak atau saat digas, bisa jadi bahan bakar yang digunakan kurang sesuai, mesin terlalu panas, ruang bakar kotor, atau ada masalah pada sistem pengapian dan injeksi. Dalam kondisi seperti itu, mengganti ke oktan lebih tinggi mungkin membantu, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Pemeriksaan mesin tetap penting, terutama jika suara knocking sering muncul.
Nilai oktan pada bahan bakar sebenarnya bukan istilah yang rumit. Intinya, oktan menunjukkan kemampuan bensin menahan pembakaran terlalu dini di dalam mesin. Semakin tinggi oktannya, semakin stabil bahan bakar saat mendapat tekanan dan panas. Tetapi pemakaiannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan mesin.
Bahan bakar yang baik bukan selalu yang angka oktannya paling tinggi, melainkan yang paling sesuai dengan desain kendaraan. Untuk kendaraan yang butuh RON 92, gunakan minimal sesuai rekomendasi itu. Untuk kendaraan yang cukup memakai RON 90, naik ke RON lebih tinggi boleh saja, tetapi jangan berharap semua kendaraan otomatis menjadi jauh lebih irit atau lebih bertenaga. Yang paling penting adalah mesin bekerja tanpa knocking, pembakaran tetap rapi, dan perawatan kendaraan dilakukan secara rutin.
Apa Itu Nilai Oktan Pada Bahan Bakar