Tubuh yang kurus sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang terbebas dari kolesterol tinggi. Anggapan ini terasa masuk akal karena kolesterol kerap dikaitkan dengan kegemukan, pola makan berlebihan, dan kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak. Tidak sedikit orang bertubuh kurus yang kemudian terkejut ketika pemeriksaan darah menunjukkan kadar kolesterol total atau LDL yang tinggi. Mereka merasa berat badannya normal, tidak pernah makan dalam porsi besar, bahkan kesulitan menambah berat badan. Namun, penampilan tubuh tidak selalu mencerminkan keadaan metabolisme di dalamnya.
Kolesterol tinggi tidak ditentukan oleh ukuran tubuh saja. Kadar kolesterol dalam darah dipengaruhi oleh cara hati memproduksi dan membuang kolesterol, faktor keturunan, jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah lemak di sekitar organ dalam, kondisi hormon, penyakit tertentu, serta penggunaan obat-obatan. Orang yang gemuk memang lebih berisiko mengalami gangguan metabolik tertentu, terutama trigliserida tinggi dan resistensi insulin, tetapi orang kurus tetap dapat mengalami peningkatan LDL karena penyebab yang sama sekali tidak terlihat dari bentuk tubuhnya. Konsensus mengenai dislipidemia sekunder juga menjelaskan bahwa gangguan lemak darah dapat timbul akibat faktor genetik, pola makan, penyakit metabolik, gangguan organ, dan efek pengobatan, bukan semata-mata akibat kelebihan berat badan (Won et al., 2024).
Kurus bukan berarti semua hasil metabolisme pasti normal
Berat badan biasanya dinilai dengan indeks massa tubuh atau BMI, yaitu perbandingan antara berat dan tinggi badan. Pengukuran ini berguna untuk melihat gambaran umum, tetapi tidak dapat menunjukkan komposisi tubuh secara rinci. Dua orang dengan berat dan tinggi yang hampir sama dapat memiliki jumlah otot, lemak bawah kulit, dan lemak di sekitar organ dalam yang berbeda. Seseorang dapat terlihat kurus karena lengan dan kakinya kecil, tetapi tetap menyimpan cukup banyak lemak di rongga perut.
Lemak yang berada di sekitar hati, usus, pankreas, dan organ perut disebut lemak visceral. Lemak ini lebih aktif secara metabolik dibandingkan lemak yang berada tepat di bawah kulit. Jumlah lemak visceral yang berlebihan dapat berkaitan dengan resistensi insulin, peningkatan produksi trigliserida oleh hati, HDL yang rendah, dan profil lipid yang kurang baik. Keadaan tersebut kadang disebut sebagai kondisi “kurus di luar, tetapi berlemak di dalam”, meskipun istilah itu bukan diagnosis medis resmi.
Penelitian Lu et al. (2022) menggunakan pemeriksaan CT untuk menilai lemak visceral pada 1.653 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian peserta dengan BMI normal tetap memiliki lemak visceral berlebih. Kelompok dengan berat badan normal tetapi lemak visceral tinggi memiliki profil lipid yang lebih buruk dibandingkan kelompok dengan BMI normal dan lemak visceral yang lebih rendah. Temuan ini memperlihatkan mengapa berat badan atau penampilan fisik tidak cukup untuk menentukan apakah metabolisme seseorang benar-benar sehat.
Faktor keturunan dapat membuat LDL tinggi sejak usia muda
Pada orang kurus dengan LDL yang cukup tinggi, terutama jika pola makannya sudah baik, faktor keturunan patut dipertimbangkan. Tubuh memiliki reseptor LDL di permukaan sel hati yang bertugas menangkap LDL dari peredaran darah. Setelah ditangkap, partikel tersebut diproses sehingga jumlah LDL di dalam darah tetap terkendali. Jika jumlah atau fungsi reseptor ini berkurang karena variasi genetik, LDL akan lebih lama beredar dan kadarnya dapat meningkat.
Bentuk kelainan genetik yang paling dikenal adalah hiperkolesterolemia familial atau familial hypercholesterolemia. Kondisi ini menyebabkan LDL tinggi sejak lahir dan tidak berkaitan langsung dengan apakah seseorang kurus atau gemuk. Penderitanya mungkin menjalani kehidupan seperti biasa tanpa merasakan keluhan, tetapi pembuluh darahnya telah terpapar LDL tinggi selama bertahun-tahun. Karena paparan dimulai sejak usia muda, penyakit jantung dapat muncul lebih awal dibandingkan pada orang yang baru mengalami kenaikan kolesterol ketika sudah lanjut usia.
Hiperkolesterolemia familial juga tidak selalu membuat seseorang tampak sakit. Petunjuknya justru sering terlihat dari hasil pemeriksaan dan riwayat keluarga. Misalnya, beberapa anggota keluarga memiliki LDL sangat tinggi, pernah terkena serangan jantung pada usia relatif muda, atau menjalani pemasangan ring jantung sebelum usia yang lazim. Meta-analisis yang melibatkan lebih dari tujuh juta orang memperkirakan bahwa kondisi ini ditemukan pada sekitar satu dari 311 orang dalam populasi umum. Angka tersebut menunjukkan bahwa hiperkolesterolemia familial bukan penyakit yang sangat langka, tetapi banyak kasus kemungkinan belum terdeteksi (Hu et al., 2020).
Faktor keturunan juga tidak selalu berbentuk hiperkolesterolemia familial yang berat. Banyak orang memiliki kombinasi sejumlah variasi gen yang masing-masing hanya memberikan pengaruh kecil terhadap metabolisme kolesterol. Ketika variasi tersebut terkumpul, seseorang dapat memiliki LDL lebih tinggi dibandingkan orang lain meskipun pola makan, aktivitas fisik, dan berat badan mereka hampir sama. Inilah sebabnya nasihat mengenai kolesterol tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan bentuk tubuh.
Pola makan orang kurus belum tentu baik untuk kolesterol
Orang kurus tidak selalu makan sedikit lemak jenuh. Sebagian orang memang sulit menaikkan berat badan karena aktivitasnya tinggi, porsi makannya tidak konsisten, atau secara alami memiliki kebutuhan energi lebih besar. Hal itu tidak berarti jenis makanan yang dikonsumsinya selalu baik bagi LDL. Seseorang dapat tetap kurus meskipun sering mengonsumsi santan, kulit ayam, daging berlemak, mentega, krimer, keju, kue, biskuit, dan makanan olahan.
Lemak jenuh tidak hanya ditemukan pada gorengan. Gulai, rendang, opor, kari bersantan, daging berlemak, susu tinggi lemak, es krim, roti dengan mentega, serta kopi dengan krimer juga dapat menyumbang lemak jenuh. Makanan tersebut mungkin tidak membuat berat badan langsung naik apabila jumlah energi yang dikeluarkan tetap besar, tetapi kandungan lemaknya masih dapat memengaruhi cara hati membersihkan LDL dari darah.
Kajian American Heart Association menyimpulkan bahwa mengganti sebagian lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh, terutama lemak tak jenuh ganda, dapat menurunkan LDL. Hal yang perlu diperhatikan adalah kata “mengganti”, bukan sekadar mengurangi. Jika lemak jenuh dikurangi tetapi digantikan dengan gula atau karbohidrat olahan dalam jumlah besar, manfaatnya terhadap kesehatan jantung tidak akan sama. Sumber lemak tidak jenuh dapat diperoleh dari ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, serta minyak nabati yang lebih banyak mengandung lemak tidak jenuh (Sacks et al., 2017).
Kebiasaan makan juga kadang dinilai hanya dari porsi makanan utama. Padahal, camilan dan minuman dapat memberi sumbangan yang cukup besar. Seseorang mungkin hanya makan nasi sedikit, tetapi beberapa kali sehari minum kopi dengan krimer, makan wafer, biskuit, roti manis, atau makanan ringan. Karena berat badannya tidak bertambah, kebiasaan itu sering dianggap tidak bermasalah. Bagi kadar LDL dan trigliserida, jenis lemak serta kualitas makanan tetap penting meskipun angka timbangan tidak banyak berubah.
Trigliserida tinggi pada orang kurus dapat memiliki pola yang berbeda
Ketika membicarakan kolesterol tinggi, penting untuk melihat bagian mana dari profil lipid yang sebenarnya meningkat. LDL tinggi dan trigliserida tinggi tidak selalu mempunyai penyebab yang sama. LDL lebih sering dipengaruhi oleh faktor keturunan, asupan lemak jenuh, fungsi tiroid, serta kemampuan hati membersihkan partikel LDL. Trigliserida lebih mudah meningkat akibat kelebihan energi, gula, karbohidrat olahan, minuman beralkohol, diabetes yang tidak terkontrol, atau resistensi insulin.
Orang kurus juga dapat mengalami resistensi insulin. Kondisi ini lebih mudah terlewat karena pemeriksaan sering baru dilakukan ketika seseorang sudah mengalami kegemukan. Padahal, faktor keturunan, kurang bergerak, rendahnya massa otot, lemak visceral, kurang tidur, dan pola makan tinggi gula dapat memengaruhi sensitivitas insulin meskipun berat badan terlihat normal. Ketika insulin tidak bekerja secara optimal, jaringan lemak lebih mudah melepaskan asam lemak ke dalam darah. Hati kemudian mengolahnya menjadi trigliserida dan mengemasnya dalam partikel VLDL.
Pola hasil laboratoriumnya dapat berupa trigliserida tinggi, HDL rendah, dan LDL yang tampaknya tidak terlalu tinggi. Namun, angka LDL-C tidak selalu menggambarkan jumlah partikel LDL secara sempurna. Dalam keadaan resistensi insulin, partikel LDL dapat menjadi lebih kecil dan lebih padat. Karena itu, profil lipid orang kurus sebaiknya tetap dibaca bersama gula darah, HbA1c, tekanan darah, lingkar perut, riwayat keluarga, dan kebiasaan hidupnya. Konsensus KSoLA menempatkan diabetes, resistensi insulin, kualitas pola makan, konsumsi alkohol, dan kelebihan energi sebagai penyebab penting dislipidemia sekunder (Won et al., 2024).
Gangguan tiroid sering tidak langsung terlihat
Hipotiroidisme merupakan salah satu penyebab medis yang perlu diperiksa ketika LDL tinggi tanpa penjelasan yang jelas. Pada kondisi ini, kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah yang mencukupi. Hormon tiroid ikut mengatur metabolisme lemak serta aktivitas reseptor LDL di hati. Ketika kadarnya rendah, pengambilan LDL dari peredaran darah dapat melambat sehingga kolesterol total dan LDL meningkat.
Orang dengan hipotiroidisme tidak harus mengalami kegemukan. Sebagian penderitanya hanya mengalami kenaikan berat badan ringan, sedangkan sebagian lainnya tetap terlihat kurus atau memiliki berat badan normal. Gejalanya juga dapat berkembang perlahan sehingga mudah dianggap sebagai akibat kelelahan biasa. Keluhan yang mungkin muncul meliputi mudah lelah, sering merasa dingin, kulit kering, sembelit, rambut menipis, sulit berkonsentrasi, suara menjadi lebih berat, atau menstruasi tidak teratur.
Kajian mengenai dislipidemia pada hipotiroidisme menjelaskan bahwa kekurangan hormon tiroid dapat menurunkan pembersihan LDL serta mengubah proses pembentukan dan pemecahan lipoprotein. Kadar trigliserida juga dapat meningkat pada sebagian pasien. Pemeriksaan TSH dan hormon tiroksin bebas dapat dipertimbangkan bila LDL tinggi disertai gejala yang mengarah pada gangguan tiroid atau tidak membaik meskipun pola makan telah diperbaiki (Liu & Peng, 2022; Won et al., 2024).
Penyakit ginjal dan gangguan hati juga dapat menaikkan kolesterol
Beberapa penyakit ginjal dapat menyebabkan kolesterol tinggi tanpa berhubungan dengan bentuk tubuh. Salah satu contoh yang paling jelas adalah sindrom nefrotik, yaitu keadaan ketika protein dalam jumlah besar keluar melalui urine akibat gangguan pada penyaring ginjal. Sebagai respons terhadap kehilangan protein tersebut, hati meningkatkan produksi berbagai protein dan lipoprotein. Proses pembersihan lipoprotein juga dapat terganggu sehingga kolesterol total, LDL, VLDL, dan trigliserida meningkat.
Penderita sindrom nefrotik dapat mengalami bengkak di kelopak mata, kaki, atau pergelangan kaki, urine berbusa, dan kenaikan berat badan akibat penumpukan cairan. Namun, penampilan tubuh sebelum sakit bisa saja kurus. NIDDK mencantumkan kadar kolesterol dan lemak darah yang tinggi sebagai salah satu gambaran utama sindrom nefrotik. Tinjauan ilmiah juga menjelaskan bahwa peningkatan lemak darah pada kondisi ini terjadi melalui gabungan peningkatan produksi dan gangguan pembersihan lipoprotein (Agrawal et al., 2018).
Gangguan hati dan aliran empedu pun dapat memengaruhi kadar kolesterol. Hati merupakan pusat produksi, pengolahan, dan pembuangan kolesterol. Pada kolestasis atau hambatan aliran empedu, pembuangan kolesterol melalui empedu dapat terganggu sehingga kadar kolesterol darah meningkat. Namun, tidak semua penyakit hati menaikkan kolesterol. Penyakit hati yang sudah berat justru dapat menurunkannya karena kemampuan hati memproduksi lipoprotein ikut menurun. Hasil pemeriksaan kolesterol karena itu perlu dibaca bersama pemeriksaan fungsi hati dan keadaan klinis pasien (Won et al., 2024).
Obat dan hormon tertentu dapat menjadi pemicunya
Peningkatan kolesterol kadang mulai terlihat setelah seseorang menggunakan obat tertentu. Kortikosteroid, isotretinoin untuk jerawat, beberapa obat hormonal, steroid anabolik, obat imunosupresan, antiretroviral tertentu, sebagian obat antikejang, dan beberapa jenis diuretik dapat memengaruhi profil lipid. Ada obat yang lebih banyak menaikkan LDL, sedangkan obat lain terutama meningkatkan trigliserida. Besarnya perubahan bergantung pada jenis obat, dosis, lamanya penggunaan, kondisi metabolik, dan respons masing-masing orang.
Penggunaan obat tidak selalu membuat berat badan bertambah. Karena itu, seseorang dapat tetap terlihat kurus meskipun profil lipidnya berubah selama pengobatan. Jika kolesterol mulai meningkat setelah penggunaan obat tertentu, obat tersebut tidak boleh langsung dihentikan sendiri. Dokter perlu menimbang manfaat obat, kemungkinan menggantinya, menyesuaikan dosis, atau menangani peningkatan kolesterol secara terpisah. Riwayat penggunaan suplemen, hormon pembentuk otot, dan produk pelangsing juga sebaiknya disampaikan karena kandungan produk tersebut belum tentu selalu jelas (Won et al., 2024).
Kurang bergerak tetap berpengaruh meskipun berat badan tidak naik
Ada orang yang tidak mudah gemuk meskipun jarang berolahraga. Keadaan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa aktivitas fisik tidak terlalu diperlukan. Padahal, olahraga bukan hanya alat untuk menurunkan berat badan. Aktivitas otot membantu tubuh menggunakan glukosa dan asam lemak, mempertahankan sensitivitas insulin, menjaga massa otot, serta membantu mengendalikan trigliserida.
Seseorang yang banyak duduk tetapi makannya tidak terlalu banyak mungkin tetap memiliki tubuh kurus. Namun, massa ototnya dapat rendah dan lemak lebih banyak tersimpan di sekitar organ. Pola ini tidak selalu terlihat dari angka timbangan. Olahraga juga tidak selalu menurunkan LDL secara besar, terutama bila penyebab utamanya adalah genetik atau hipotiroidisme, tetapi manfaatnya terhadap gula darah, trigliserida, tekanan darah, kebugaran jantung, dan kesehatan pembuluh darah tetap penting.
Tubuh yang kurus juga bukan alasan untuk menjalani pola makan bebas tanpa memperhatikan kualitas makanan. Aktivitas fisik yang baik dan berat badan normal tidak dapat sepenuhnya menetralkan LDL yang sangat tinggi akibat faktor keturunan. Sebaliknya, pola makan yang baik saja mungkin belum cukup jika seseorang memiliki penyakit atau menggunakan obat yang memengaruhi metabolisme lemak.
Apa yang perlu dilakukan jika orang kurus memiliki kolesterol tinggi?
Langkah pertama adalah membaca hasil profil lipid secara lengkap. Jangan hanya melihat kolesterol total karena angka tersebut merupakan gabungan dari kolesterol yang dibawa oleh beberapa jenis lipoprotein. Perhatikan LDL, HDL, trigliserida, dan non-HDL cholesterol jika tersedia. LDL yang tinggi dengan trigliserida normal dapat memberikan petunjuk yang berbeda dari trigliserida tinggi disertai HDL rendah.
Riwayat keluarga juga perlu ditanyakan. Adanya orang tua atau saudara kandung dengan LDL sangat tinggi, serangan jantung pada usia muda, atau penyakit jantung yang muncul berulang dapat mengarah pada faktor genetik. Jika penyebabnya belum jelas, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan gula darah, HbA1c, TSH, fungsi ginjal, fungsi hati, atau urine. Obat, suplemen, pola makan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, lingkar perut, dan tingkat aktivitas fisik juga perlu ditinjau.
Perubahan pola makan tetap diperlukan meskipun tubuh sudah kurus, tetapi tujuannya bukan menurunkan berat badan secara berlebihan. Fokusnya adalah memperbaiki kualitas makanan dengan mengurangi lemak jenuh, makanan olahan, gula tambahan, dan karbohidrat olahan, kemudian menggantinya dengan sayuran, buah utuh, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, ikan, protein nabati, dan sumber lemak tidak jenuh. Kebutuhan energi harus tetap dipenuhi agar berat badan dan massa otot tidak semakin turun.
Ada orang kurus yang kolesterolnya membaik setelah pola makan dan aktivitas fisiknya diperbaiki. Ada pula yang tetap membutuhkan obat karena LDL sangat tinggi, memiliki kelainan genetik, sudah mengalami penyakit pembuluh darah, atau mempunyai risiko kardiovaskular yang besar. Keputusan pengobatan tidak ditentukan oleh kurus atau gemuk, melainkan oleh angka lipid, penyebabnya, usia, penyakit penyerta, riwayat keluarga, dan risiko penyakit jantung secara keseluruhan.